Anak Muda Zaman Now

Anak Muda Zaman Now

Anak Muda Zaman Now

“Dunia sedang melalui masa-masa sulit. Anak-anak muda masa kini hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mereka tidak punya rasa hormat kepada orang tua atau orang-orang yang berusia lebih tua. Mereka tidak sabaran. Mereka berbicara seolah-olah mereka mengetahui segalanya dan apa yang kita anggap bijak justru mereka anggap konyol. Terkait anak-anak gadis, mereka agresif, tidak sopan dan tidak anggun dalam berbicara, perilaku dan berbusana”.

Sulit untuk tidak setuju? Padahal, kutipan di atas berasal dari satu ceramah yang disampaikan Peter the Hermit pada 1274 M! Yakni 744 tahun yang lalu! Dari sini kita bisa lihat, tampaknya anak-anak muda dari berbagai masa selalu dicibir oleh generasi lebih tuanya. Mungkin bukan generasi muda yang harus berubah, tetapi generasi tualah yang mesti lebih sedikit berpikiran positif.

Rasanya telah menjadi umum, dalam sebuah ceramah atau artikel tentang moral, para penceramah/penulisnya selalu menukil kisah tentang kriminalitas, masalah amoral, cerita-cerita kejahatan yang membuat miris, hilangnya norma-norma agama dll, yang katanya akhir-akhir ini semakin marak.

Padahal pada faktanya, lebih banyak kebaikan yang terjadi daripada keburukan. Sesuatu yang negatif  memang lebih mudah diingat, diperhatikan, menjadi perbincangan daripada sesuatu yang positif. Itulah mengapa, media lebih sering memunculkan berita yang buruk, karena kebanyakan manusia lebih tertarik dengan hal tersebut. Silakan kita baca surat kabar, atau lihat berita di televisi, kabar buruk seperti bencana, korupsi, perang, atau kejahatan, kerap dijadikan berita utama pada halaman muka. Sementara berita tentang suatu kemajuan jarang diberitakan. Kecenderungan seperti itu terjadi di mayoritas belahan dunia, tak hanya di sebuah wilayah yang penuh konflik.

Sebuah laporan penelitian tentang reaksi manusia terhadap hal-hal negatif yang dipublikasikan dalam Psychological Science membuktikan bahwa orang lebih cepat merespons kata-kata negatif. Hal ini disebut “bias negatif“, suatu istilah psikologi terhadap keinginan kita melahap, dan mengingat berita buruk. Hal itu bukan disebabkan karena kita merasa senang dengan berita kemalangan orang lain, akan tetapi karena kita cenderung untuk bereaksi cepat terhadap potensi ancaman.

Berita buruk dapat menjadi pertanda bahwa kita perlu mengubah apa yang selama ini kita lakukan untuk menghindari bahaya. Akan tetapi, kewaspadaan terhadap ancaman ternyata bukan satu-satunya alasan kenapa manusia cenderung membaca berita buruk. Seseorang memerhatikan berita buruk juga disebabkan karena mereka merasa dunia ini cerah dan kehidupan mereka lebih baik. Pandangan yang menyenangkan itu membuat berita buruk lebih menonjol, hingga akhirnya menjadi perhatian. Begitulah sunatullah, Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada baik tentunya juga ada buruk.

Lantas benarkah keadaan yang terjadi saat ini, karena dunia semakin mendekati akhir zaman, dan tingkah laku manusia semakin kacau? Mendekati akhir zaman sudah pasti, karena waktu semakin bertambah. Tetapi tingkah laku manusia semakin kacau, jawaban sebenarnya tergantung dari pola pikir orang yang memandangnya. Pola pikir ini tergantung dari isi pikiran. Sedangkan isi pikiran tergantung dari buku yang dibaca, siapa teman “nongkrong”, masukan informasi yang didapat dari media-media, perjalanan kehidupan yang dilalui, agama yang dianut, dogma kehidupan yang di terima berkali-kali, budaya lokal, kebijakan sosial yang dilaluinya dan banyak lagi penentu.

Di sinilah akhirnya, yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lainnya bertindak. Informasi mungkin sama, namun reaksi atau tindakan tidak ada yang sama. Karena berbeda “hidupnya”. Faktor pembeda tersebut ditempa sedemikian rupa dalam waktu yang sangat panjang. Inilah yang menjadi kebiasaan dan karakter diri.

Bagi saya yang suka membaca buku-buku pengetahuan, motivasi, bisnis dsb namun tidak suka menonton televisi, acara-acara sinetron, infotainment dan berita-berita kriminalitas, justru memandang kemajuan di dunia ini sangatlah pesat dan semakin banyak peluang yang siap diambil kapan saja.

 

Tanamlah Masa Muda Dengan Hal Positif

Semua orang sukses, telah menanam kesuksesannya sedari muda. Mereka melakukan hal-hal dengan nilai yang positif sedari kecil. Sehingga pada saatnya peluang untuk sukses telah tiba, mereka sudah matang, siap untuk mengambil peluang tersebut dan memetik hasilnya. Hasil luar biasa yang mereka peroleh, tidak didapat dengan instan begitu saja, tetapi dipupuk secara bertahap dan konsisten.

Masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah. Dengan keunggulan dan kelebihan pada usia muda seperti semangat masih membara, tenaga masih kuat, pikiran masih fresh dan tekad yang kuat, maka dalam Islam, masa muda akan diminta pertanggung jawabannya secara khusus.

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).”  (HR. At-Tirmidzi, Ash-Shahihah no. 946)

Usia akan ditanya dan diminta pertanggung jawaban untuk apa dihabiskan. Masa muda termasuk dalam usia, akan tetapi selanjutnya, masa muda kembali ditanyakan dan diminta pertanggung jawaban secara khusus. Oleh karena itu masa muda ini perlu benar-benar diperhatikan, terlebih pemuda adalah generasi penerus.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu berkata, “Para pemuda pada setiap umat mana pun, mereka adalah tulang punggung yang membentuk unsur pergerakan dan dinamisasi. Pemuda mempunyai kekuatan yang produktif, kontribusi yang terus menerus. Tidak akan bangkit suatu umat umumnya kecuali ada kepedulian dan sumbangsih para pemuda dan semangat menggelora.”

Sangat luar biasa jika seorang pemuda dengan berbagai macam godaan dunia, mereka tetap teguh beragama dan istiqamah. Padahal pemuda masih cenderung terhadap dunia serta memiliki kemampuan dan semangat untuk meraihnya. Oleh karena itu pemuda seperti ini mendapat naungan Allah di hari yang sangat susah pada kiamat kelak.

Dalam sebuah hadist, HR. Bukhari no. 1357 dan Muslim no. 1031 disebutkan ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya. Salah satu golongan itu adalah “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah”.

Hendaknya para pemuda mengisi waktu mereka dengan kegiatan positif atau mencari-cari kegiatan positif. Misalnya menghadiri majelis ilmu, menghapalkan Al-Quran dan sunnah, membuat kegiatan sosial dan lain-lainnya.

Tidak lupa juga segera mencari teman yang baik, teman bergaul yang baik. Karena ini akan menjadi faktor penentu kesuksesan hidup. Potensi dan karakter diri akan dibangun bersama lingkungan dimana diri terbentuk. Berteman dengan orang baik akan menjadikan diri baik, sebaliknya berteman dengan orang tidak baik akan membuat diri menjadi tidak baik.

Masa muda tak dapat dipungkiri merupakan masa yang sangat labil serta mudah terpengaruh dan terhasut oleh lingkungan dan pertemanan. Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak ada kegiatan yang bernilai positif. Jika tidak diisi dengan kegiatan positif, maka akan diisi dengan kegiatan negatif.

Ketika pemuda mengalami kekosongan waktu (kosong dari kegiatan positif), maka mereka mulai mencari-cari kegiatan atau mengisinya dengan kegiatan yang paling minimal sia-sia dan kurang bermanfaat seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas. Belum lagi ada yang merasa kurang perhatian baik dari keluarga dan temannya, maka ia akan melakukan hal-hal yang aneh, ajaib bahkan vulgar agar tetap eksis dan merasa keren dan hebat. Walaupun kenyataannya, justru kampungan dan pecundang.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”  Inilah kaidah kehidupan, bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan dengan kegiatan positif, kita tidak mencari kegiatan positif, maka pasti akan terisi dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi seorang pemuda yang jiwanya masih bergelora.

Akhir kata, selamat hari santri nasional pada tanggal 22 Oktober nanti, Semoga Allah menjaga pemuda muslim dan muslimah. Semoga kesuksesan menghampiri kalian segera, dalam usia yang masih muda. Aamiin ya Rab..

Baca Juga :