Penaksiran Risiko

Penaksiran Risiko

Penaksiran Risiko

Penaksiran Risiko

Penaksiran risiko, komponen kedua dari pengendalian internal, merupakan proses mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang mempengaruhi tujuan perusahaan. Tahapan yang paling kritis dalam menaksir risiko adalah mengidentifikasi perubahan kondisi eksternal dan internal dan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan. Contoh risiko yang relevan dengan proses pelaporan keuangan termasuk perubahan dalam lingkungan operasi organisasi, perubahan personel, perubahan sistem informasi, terknologi baru, perubahan dalam industri, lini produk yang baru, dna regulasi, hukum atau peraturan akuntansi yang baru.
Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian merupakan komponen pengendalian yang ketiga. Aktivitas pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang dibangun untuk membantu memastikan bahwa  arahan manajemen dilaksanakan dengan baik. Aktivitas pengendalian dapat berupa pengendalian akuntansi yang dirancang untuk memberikan jaminan yang masuk akal atau memadai bahwa tujuan pengendalian tertentu tercapai untuk setiap sistem aplikasi yang material dalam organisasi.
1. Otorisasi transaksi dan kegiatan yang memadai
Prosedur otorisasi merupakan pengendalian yang memastikan bahwa karyawan perusahaan hanya memproses transaksi yang sah dalam ruang lingkup otoritas yang telah ditentukan. Misalnya, dalam sistem pembelian manual, pembelian persediaan dari pemasok yang ditunjuk ketika tingkat persediaan mencapai titik pemesanan memerlukan otorisasi.
2. Pemisahan tugas
Dalam sebuah sistem manual, salah satu pengendalian yang penting adalah pemisahan tugas-tugas yang bertentangan selama pemrosesan transaksi. Para individu diberikan tanggung jawab untuk hanya melakukan aspek-aspek terbatas ransaksi untuk tiga ujuan berikut:
1) Otorisasi trnsaksi harus terpisah dari pemrosesan transaksi.
2) Penyimpanan aktiva harus terpisah dari tanggung jawab pencatatan aktiva.
3) Otorisasi harus disusun sedemikian rupa, sehingga tidak adanya penipuan.
Pengendalian internal yang baik mensyaratkan bahwa tidak ada pegawai yang diberi tanggung jawab terlalu banyak. Seorang pegawai seharusnya tidak berada dalam posisi untuk melakukan penipuan dan menyembunyikan penipuan atau kesalaha yang tidak disengaja.
3. Desain dan penggunaan dokumen serta catatan yang memadai 
1) Desain dan penggunaan catatan yang memadai membantu untuk memastikan pencatatan yang akurat dan lengkap atas seluruh data transaksi yang berkaitan.
2) Dokumen-dokumen yang mengawali sebuah transaksi harus memiliki ruang untuk otorisasi.
3) Prosedur-prosedur berikut ini menjaga aset pencurian, penggunaan tanpa otorisasi, dan vandalisme:
• Mensupervisi dan memisahkan tugas secara efektif
• Memelihara catatan aset, termasuk informasi, secara akurat
• Membatasi akses secara fisik ke aset
• Melindungi catatan dan dokumen
4. Penjagaan aset dan catatan yang memadai
Beberapa aset yang perlu diamankan dalam SIA adalah sebagai berikut:
• Mesin kas
• Lemari besi,  kotak uang
• Kotak pengaman simpanan
• Area penyimpanan tahan api
• Mengendalikan lingkungan
• Pembatasan akses ke ruang komputer, file komputer, dan informasi
5. Pemeriksaan independen atas kinerja
Berbagai jenis pemeriksaan independen adalah:
1) Rekonsiliasi dua rangkaian catatan yang dipelihara secara terpisah
2) Perbandingan jumlah aktual dengan yang dicatat
3) embukuan berpasangan
4) Jumlah total batch, yaitu:
• Jumlah total keuangan.
• Jumlah total lain-lain adalah jumlah field yang biasanya tidak ditambahkan
• Jumlah catatan adalah jumlah dokumen yang diproses.
• Jumlah baris adalah jumlah baris data yang dimasukkan.
• Uji kesesuaian baris dan kolom. Banyak lembar kerja yang memiliki jumlah total baris dan kolom. Uji ini akan membandingkan jumlah total  dari setiap jumlah dalam baris, dengan jumlah total dari setiap jumlah dalam kolom, untuk memeriksa apakah jumlah mereka sama.