Tangan Kecil Cita

Tangan Kecil Cita

Tangan Kecil Cita

Seperti biasa, pasangan suami isteri Herdi dan Lia meninggalkan anaknya untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga tahun bernama Cita.
Setiap mhari Cita banyak menghabiskan waktunnya bermain sendiri diluar rumah. Dia bermain ayunan, menggambar, ataupun memetik bunga yang ada di halaman rumahnya.
Suatu ketika dia menemukan sebuah paku di dekat garasi. Dia tampak asik bermain dengan paku tersebut, menggoreskannya di tanah, dinding, bahkan iapun berusaha mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan. Tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Maka diicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap tentu saja coretannya tampak jelas. Ia tampak senang sekali hinnga ia menggoreskan paku itu di sekeliling mobil ayahnya.
Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Petang itu ketika kedua orang tuannya pulang, mereka terkejut melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran sudah seperti itu. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Mukanya merah padam ketakutan melihat wajah bengis tuannya.
Pak Herdi bertannya kepadanya dengan suara keras, “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kau kerjakan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Cita yg membuat itu pa…, bagus kan!” katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil yang ada di depannya, dengan emosi dipukulkannya ke telapak tangan si kecil Cita.
Si Cita kecil yang masih belum mengerti apa-apa itu menjerit kesakitan. Melihat kejadian itu si ibu cuma mendiamkannya saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Sedangkan pembantu rumah hannya terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah selesai memukuli tangan Cita si ayah itupun masuk ke dalam rumah diikuti si ibu, pembantu rumah segera menggendong Cita kecil yang menangis kesakitan dan membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan si Cita kecil memar dan sedikit berdarah. Iapun langsung memandikannya, sambil menyiramkan air iapun ikut menangis tak tega melihat penderitaan Cita kecil. Cita terus terjerit-jerit menahan perih saat luka ditangannya itu terkena air. Selesai memandikan, si pembantu menidurkannya dan membersihkan luka-lukanya dengan alkohol. Kedua orang tuannya sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah, kereka ingin memberi pelajaran kepada anaknya.
Keesokkan harinya, kedua belah tangan Cita bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan salep luka saja!” jawab si bapak. Setiap hari, sepulang kerja kedua orang tua Cita tidak memperdulikaan keadaannya hanya sesekali menayakan keadaannya, Cita demam bu..” kata si pembantu. “Kasih obat penurun panas, tuh ada di kotak obat”. jawab si ibu.
Malam itu sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menyempatkan diri menjenguk Cita di kamar pembantunya. Saat dilihat Cita sedang tertidur dalam pelukan pembantunya, lalu dia menutup lagi pintu kamar itu. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Cita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik” kata tuannya. Sampai di klinik ternyata dokter menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit karena keadaannya cukup serius, dan merekapun segera membawanya ke rumah sakit.
Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil kedua orang tua itu untuk bertemu. “Tidak ada pilihan, infeksinya sudah terlalu parah. Jika dibiarkan hal ini dapat menjadikannya jauh lebih parah lagi, kita harus menganputasinya dari siku ke bawah” kata dokter dengan serius kepada kedua orang tuanya.
Keduanya bagaikan terkena listrik tegangan tinggi. Si ibu meraung-raung menangis dan merangkul Cita kecil. Dengan berat hati dan lelehan air mata si ayah terpaksa menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Hari demi hari berlalu, keadaan Cita kecil berangsur-angsur membaik. Hingga suatu sore Cita kecil bingung melihat kedua belah tangannya yang berbungkus perban dan nampaknya sangat pendek. Ditatapnya muka ayah dan ibunya, kemudian ke wajah pembantunya. Dia bingung melihat mereka semua menangis.
“Papa… Mama… Cita tidak akan melakukannya lagi. Citata tak mau lagi dipukul papa. Cita tidak mau jadi anak jahat. Cita sayang papa.. Cita juga sayang mama.” katanya berulang kali dan membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
“Cita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis itu meraung histeris.
“Papa, tangan Citako diambil pa, kembalikan ya pa. Cita janji tidak akan mengulanginya lagi. Nanti bagaimana kalau Cita mau makan, Bagaimana Cita bermain boneka? Cita janji tidak akan mencoret-coret mobil papa lagi” tutur Cita kecil dengan polos.
Mereka langsung memeluk Cita sambil Menangis sejadi-jadinya “maafkan papa dan ibumu nak, maafkan kami” mereka terus menangis sambil meratapi takdir yang telah terjadi, tanpa ada seorang manusiapun yang dapat membalikannya.

Baca Juga :